Sebuah teknik yang telah berhasil dilakukan orang-orang Zionis Israel selama bertahun-tahun adalah teknik “pembalikan korban dan pelaku. Artinya, seseorang yang merupakan pelaku kejahatan, kini berpura-pura menjadi korban dengan cara meneteskan air mata dan mengungkapkan narasi yang emosional.
Contoh dari teknik tersebut adalah pembuatan sebuah film dokumenter yang menceritakan trauma psikologis beberapa anak Israel. Ini bukan sekadar sebuah film, namun sebuah senjata lunak dalam perang narasi. Mereka membangun sebuah realitas buatan dengan menggunakan air mata, emosi, dan narasi yang tersinkronisasi.
Tujuannya jelas, yaitu untuk mengubah opini publik dunia, menutupi kejahatan Zionis Israel dan memberikan legitimasi terhadap kelanjutan pendudukan dan genosida. Sejak 7 Oktober 2023, 15.000 anak Palestina terbunuh di Jalur Gaza di tengah keheningan dan diamnya dunia. Jadi jelas bahwa korban sebenarnya adalah anak-anak Palestina ini.