Lima abad lalu, para penjajah menggunakan frasa yang sama untuk menduduki tanah Timur dan Barat: penduduk pribumi adalah binatang. Kini, tampaknya, logika yang sama masih berlaku.
Sejak abad ke-16 dan seterusnya, bangsa Eropa memasuki sejarah dengan pemahaman khusus tentang Kekristenan; pemahaman yang memperkenalkan mereka sebagai “umat pilihan Tuhan”.
Gagasan terpilih ini memungkinkan mereka untuk menganggap diri mereka “manusia sempurna” dan kaum serta bangsa lain sebagai setengah manusia atau binatang.
Ketika penjajah Inggris dan Prancis memasuki benua Amerika, mereka membenarkan pembantaian penduduk asli dengan logika yang sama: penduduk pribumi “buas” dan tanah harus diserahkan kepada “bangsa beradab”.
Dalam perdagangan budak, mereka mendefinisikan jutaan orang Afrika sebagai alat kerja berdasarkan pandangan ini. Inilah di antara cara penjajah memuluskan kolonialismenya.