Lima abad lalu, para penjajah menggunakan frasa yang sama untuk menduduki tanah Timur dan Barat: penduduk pribumi adalah binatang. Kini, tampaknya, logika yang sama masih berlaku. Sejak abad ke-16 dan seterusnya, bangsa Eropa memasuki sejarah dengan pemahaman khusus tentang Kekristenan; pemahaman yang memperkenalkan mereka sebagai “umat pilihan Tuhan”. Gagasan terpilih ini memungkinkan mereka untuk menganggap diri mereka “manusia sempurna” dan kaum serta bangsa lain sebagai setengah manusia atau binatang.