Irak dan Ketergantungan Infrastruktur Keuangannya terhadap Amerika

Meski potensi kekayaan alam Irak tak tertandingi, namun tidak ada proyek pertambangan besar yang aktif disebabkan bergantung pada izin AS.

Share

Bendera Irak dan Amerika Serikat

Dua dekade setelah berakhirnya perang, tentara Amerika meninggalkan wilayah Irak, namun pengaruhnya di jantung sistem finansial dan ekonomi di negara ini masih tetap berlanjut, seakan-akan ini adalah wajah baru penjajahan.

Irak memiliki 145 miliar barel minyak, atau 8 persen dari minyak dunia. Namun pemerintah Irak dengan kekayaan besar ini, dengan cadangan besar minyak, emas dan logam langka, masih membutuhkan persetujuan Kementerian Keuangan Amerika untuk membayar pengeluaran negaranya.

Sejak hari-hari pertama jatuhnya Baghdad, pemerintahan sementara koalisi pimpinan AS menempatkan semua pendapatan minyak Irak di bawah kendali langsungnya. Atas perintah Washington, sebuah rekening khusus dibuat di Bank Federal Reserve New York untuk menyimpan semua hasil penjualan minyak Irak. Dengan cara ini, mekanisme dolar, yang seharusnya menjadi alat transparansi, menjadi alat untuk mengendalikan dan mengekang kedaulatan keuangan Irak.

Secara bertahap ketergantungan ini melampaui minyak. Amerika Serikat mencegah Irak memanfaatkan sumber daya alam lainnya melalui jaringan pembatasan keuangan dan sanksi lunak.